Etika Bermain Media Sosial

Setelah mengikuti Forum Grup Diskusi soal Viral Boleh Hoaks Jangan, saya merasa bahwa etika bermedia sosial harus disosialisasikan lebih gencar.

Dona Trikusuma (Moderator)-Setiawan Hendra (Ketua PWI Jateng)-Andi Sigit (Ketua GENPI Semarang)-Danang Agung (Kanwil Kemenkumham Jateng)-Dodi Handoko (Ditressiber Polda Jateng) 

Foto bareng member Gandjel Rel


Fakta bahwa kabar hoaks maupun misleading dibagikan juga oleh kalangan terpelajar membuktikan bahwa masih banyak netizen yang tidak mengerti konsep medsos.

Sebelum buru-buru mengulik soal penyebaran hoaks dan konten misleading, harusnya paham dulu mengenai aturan dasar dalam bermedia sosial. Apa aturan dasarnya?


Pertama: Apa yg tidak boleh dilakukan di dunia nyata, tidak boleh dilakukan di dunia maya.

Contoh: jika kamu tidak puas dengan bos, maka jangan memakinya di dunia maya (media sosial). Karena di dunia nyata toh kamu tidak akan melakukan hal itu. Apa-apa yang terpendam dalam hatimu tidak lantas diungkap di dunia maya. Dunia maya itu bukan dunia lain, juga bukan buku diary dimana kamu bisa bebas "nyampah".

Di dunia nyata ada warga biasa, ada aktor, ada pedagang, ada konsultan, ada pemain musik, ada dokter, ada penipu, dan lain-lain. Di dunia maya juga sama. Maka baik di medsos maupun di real life, kita tetap harus waspada dan hati-hati.

Apabila setiap orang paham aturan ini, maka netizen tidak akan bermudah-mudah posting sesuatu.

Kedua: kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi.

Salah satu contohnya info soal artis meninggal. Biasanya netizen gampang termakan info viral seperti ini. Harusnya cek dulu, bener gak infonya? Kasihan dong kalo orang segar bugar kok tiba-tiba dapat ucapan duka cita.

Ini contoh yang remeh. Artinya ada pihak yang dirugikan, namun kerugiannya tergolong kecil. Sayangnya tidak banyak yang menyadari betapa besar bahaya konten viral hoaks yg disebarkan secara masive.

Untuk kasus yang lebih besar, efeknya bisa sampe bikin kacau satu negara loh. Contohnya isu soal keamanan uang di bank. Tahun 1998 pernah terjadi penarikan uang besar-besaran, dan ini menimbulkan kekacauan luar biasa.

Dampak lain dari konten hoaks dan misleading:

- menimbulkan kepanikan publik

- menyebabkan kelangkaan barang

- pengambilan keputusan yg keliru

- merusak reputasi orang/lembaga

- polarisasi dan konflik


Kenapa konten hoaks dan misleading mudah menyebar?

1. Algoritma mengutamakan engagment tinggi. Semakin viral maka algoritmanya bakal semakin kenceng.

2. Orang langsung share info tanpa memastikan kebenarannya. Main percaya aja gitu, apalagi kalo yang share prof anu, atau dokter anu. Dianggap infonya pasti valid.

3. Konten yang isinya komplain, marah, takut, dan bikin penasaran lebih menarik perhatian. Kayak asyik aja gitu buat bahan gibah.




Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai netizen yang budiman? Kita harus menjaga etika berbagi dan mengutamakan klarifikasi sebelum verifikasi.

Bagi yang profesinya sebagai konten kreator, maka kewajibannya nambah satu lagi, yaitu mengembangkan literasi digital.



Konten kreator itu seperti koki, yang tugasnya meramu masakan sedemikian rupa. Bagaimana pemilihan bahan masakan, bagaimana pengolahannya, dan bagaimana penyajiannya kudu dipertimbangkan secara matang. Gimana caranya biar yg menikmati "masakannya" merasa senang, gimana caranya biar orang tertarik, gimana caranya biar gak pada keracunan. Jadi ada aturannya, tidak main posting saja.

Karena meskipun yg disajikan adalah fakta bin realita, namun jika konsep penyajiannya tanpa pertimbangan matang, nantinya bisa jadi bumerang. Contoh: menuliskan review tentang suatu produk. Seandainya ada yang tidak disukai, maka pilihlah diksi dan penyampaian yang baik. Tujuannya meminimalisir efek negatif terhadap brand atau produk. Alih-alih bilang produk X gak enak, bisa kita gunakan diksi: kurang cocok, kurang asin, teksturnya begini atau begitu, dan lain-lain. Intinya sebagai konten kreator maupun influencer fungsinya mengedukasi tanpa menjatuhkan.

Akan lebih baik jika konten kreator memiliki background yang sesuai dengan kontennya. Misal membuat konten kesehatan, maka lebih bagus kalau kita memiliki background ilmu kesehatan. Bagaimana jika tidak punya? Selalu sertakan sumber yang valid, seperti artikel dari kemenkes, atau bpom, atau semisalnya. Jadi apabila ada kondisi tertentu yang berpengaruh pada pembaca, misal setelah praktek sesuai konten kok kemudian si pembaca alergi, maka kita tdk bisa dituntut.





Kesimpulannya: dunia maya tidak berarti kita bebas bermain peran dan mengeluarkan isi hati. Ada aturan bermasyarakat dan ada konsekuensi nyata atas tulisan, cuitan, maupun konten yang diproduksi. Sebagaimana di dunia nyata, apapun yang kita lakukan di dunia maya juga ada pertanggungjawabannya.

Bahkan sebagai seorang muslim, prinsip kehati-hatian ini sangat penting. Karena disaat kita menyebarkan kebaikan, memberikan konten edukasi, membuat orang termotivasi positif, maka hal itu akan menjadi amal jariyah yang tidak putus meski sudah meninggal dunia.

Pun sebaliknya. Jika kita menyebarkan atau membuat konten yang tidak benar, apalagi sampai merugikan, maka selama hal tersebut belum diralat, info yg terlanjur beredar belum dicabut, dan selama yang terdampak belum ridho, maka hal tersebut bisa jadi amal buruk yang menghantui sampai ke alam barzah.


NOTE:

- Hoaks: informasi yang sepenuhnya salah. Fotonya salah, isi berita salah, judul salah, intinya informasi palsu.

- Misedleading: informasi yang sebagian benar. Fotonya benar,tapi isi beritanya salah. Atau fotonya benar, isi berita benar, tapi waktunya salah. Misal kejadian nyata bencana tahun 2010 diposting di 2026.


"KEBENARAN YANG DIPOTONG SETENGAH-SETENGAH, BISA JADI KEBOHONGAN YANG UTUH" --Setiawan Hendra, K, Ketua PWI Jateng


*********************************************

Event: Forum Grup Diskusi "Viral Boleh Hoaks Jangan"

Venue: Novotel Semarang

Hari/tanggal: Kamis, 13 Agustus 2026

Waktu: 09.00-12.00 wib

Komentar